Kata Share | Mas Sehat | Ston SEO Responsif Blogger Template

Running text

SELAMAT DATANG DAN SELAMAT MENIKMATI HIDANGAN YANG KAMI SAJIKAN DALAM BLOG INI

Penyebab dan Cara Mengatasi Writer's Block



Secara sederhana, Writer’s Block adalah suatu keadaan di mana seorang penulis tidak dapat membuat sebuah karya tulis karena keterbatasan ide atau malah tidak memiliki ide sama sekali. Pikirannya buntu, otaknya tidak dapat berpikir, dan jari-jemari hanya bisa menempel di atas keyboard tanpa dapat melakukan apa-apa. Keadaan ini membuatnya jadi mirip dengan istilah Presque Vu, yakni keadaan saat di mana kamu tau sebuah benda/orang, kamu benar-benar tau tapi tidak bisa mengucapkannya, rasanya pikiranmu itu sudah berada di ujung lidah, namun sayang tak dapat direalisasikan.

Jangan merasa rendah atau bodoh ketika mengalami Writer’s Block karena seyogyanya orang yang tidak pernah gagal adalah orang yang tidak pernah mencoba. Itu artinya, orang yang tidak pernah mengalami gejala Writer’s Block adalah orang yang tidak pernah menulis.

Semua orang yang senang menulis tentu pernah mengalami ini, termasuk saya sendiri yang sampai sekarang hanya mampu menjual tulisan (mendapat uang, red) sekali saja. Ugh, that’s so mean, bruh!
Oke langsung saja. Secara pribadi (benar-benar orisinil dan tidak menyontek dari google), ada beberapa hal yang membuat seseorang mengalami writer’s block, di antaranya;

a)      Sibuk dengan tugas
Saking pikiran ini hanya sibuk dengan mengerjakan macam-macam tugas dari tenaga pendidik, kita jadi tidak dapat meluangkan waktu untuk sekadar mengetik sebuah tulisan. Pikiran yang tadinya ingin mencoba menuangkan ide, malah harus terforsir untuk mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk.

b)      Ide yang tidak orisinil
Seringkali kita mencoba untuk memaksakan diri membuat sebuah ide yang orisinil, namun sayang kita tidak memiliki cukup ide yang bagus. Ketika ide kita ternyata sudah bagus, kita justru takut bahwa ide kita sebenarnya sudah pernah ada, sudah pernah dibuat orang lain, sehingga kita merasa jika ide ini menjadi hasil imitasi dari orang lain.

c)       Kreativitas dan Inovasi yang terhambat
Dikutip dari perkataan dosen kewirausahaan, inovasi adalah ide-ide atau gagasan baru, sedangkan kreativitas adalah hasil dari ide-ide atau gagasan tersebut. Namun sayang sekali, kita berusaha menjadi orang yang kreatif, tapi tidak memiliki sebuah inovasi. Saya kebetulan punya seorang kawan yang sudah lama tidak menulis kisah fiksi, saking lamanya, ia sampai tidak menemukan ide untuk menulis lagi. Hal ini terjadi karena karya lamanya yang dulu dielu-elukan banyak orang kini sudah lapuk dimakan waktu, sudah tidak sesuai dengan tren masa kini, sudah tidak seru lagi. Ia merasa tak memiliki inovasi untuk menghidupkan kembali karyanya yang hampir mati.

d)      Anti mainstream
Kepuasaan pembaca adalah salah satu dari banyak tujuan seseorang untuk menulis. Saya pribadi juga takut jika karya yang saya ciptakan ternyata sudah mainstream sehingga membuat para pembaca merasa bosan, padahal masih banyak di luar sana para penulis muda yang memulai debutnya dengan tema cerita yang itu-itu saja. Pernah ada sebuah lomba menulis nasional yang diadakan di kampus, tapi saya tidak jadi mengikutinya karena takut karya saya sudah mainstream. Saat antologi cerpen itu keluar, ada satu cerita yang membuat saya menghela napas. Tidak sampai satu halaman, saya sudah bisa menebak kemana cerita ini akan berlabuh. Di situ saya berpikir egois, “Duh, kalau karya yang begini saja bisa diterbitkan, mengapa saya tidak mencoba mengirim naskah dulu?”

e)      Tidak memiliki bank kosakata
Orang-orang yang suka menulis sudah pasti senang membaca literatur. Jadi, bagaimana jika seseorang tidak suka membaca tapi suka menulis? Itu mustahil, karena apa yang kita tulis adalah hasil dari apa yang kita baca. Kita mendapatkan banyak kosakata dari berbagai bacaan, dari situ kita mengasah diri untuk memiliki bank kosakata, namun seseorang yang tidak suka membaca tidak mungkin dapat menulis dengan lincah, tentunya karena dia tidak cukup memiliki bank kosakata itu sendiri.

f)       Memaksa diri menciptakan diksi yang memukau
“Jika kita menjadi peragu, kapan kita akan maju?”
Ini adalah satu dari sekian kutipan kalimat dengan diksi yang menurut saya sangat indah. Kalimatnya memang sederhana, tapi ini membuat saya berusaha untuk terus bangkit dari keraguan. Diksi ini menjadi indah karena menggunakan sajak a-a yang sederhana namun membuat saya terpikat.

Saya sering sekali memaksakan diri untuk menciptakan diksi yang bagus, karena bagi saya yang egois ini diksi adalah segalanya. Banyak cerpen yang bahkan tidak sampai 1000 kata memiliki ratusan komentar positif karena terkagum-kagum pada diksinya yang indah. Ketika kita mencoba melakukan hal yang sama, kita justru tidak bisa mengetik dan ketika kita mengetik, kita sendiri menjadi salah dalam menganalogikan suatu karya sastra.

g)      Tidak dapat menulis di keramaian
Ide menjadi tidak keluar karena banyak tekanan dari luar yang menyerang. Orang-orang bertanya apa yang sedang kau lakukan, kau sedang menulis ya, wah tulisanmu bagus, namun bukan kepercayaan diri yang kita dapat, melainkan rasa gugup sampai-sampai membuat kita tak dapat menulis lagi. Kita yang tadinya memiliki segudang ide, tiba-tiba merasa tak dapat menulis lagi akibat komentar banyak orang. Saya tidak suka tulisan saya dinilai sebelum benar-benar selesai, makanya saya tidak terbiasa menulis di keramaian.

Lalu, bagaimana mengatasinya? Berikut tips murni dari pengalaman saya. Silahkan dibaca!

a)      Tidurlah
Jika anda sedang berada di kamar namun mengalami writer’s block, maka tidurlah. Jangan lakukan hal apapun yang memberatkan pikiran anda. Tidur membuat pikiran rileks, tidur melemaskan otot-otot yang kaku, ketika anda terbangun maka pikiran anda akan rileks kembali, hal ini membantu anda untuk kembali berpikir dengan jernih. Lalu bagaimana jika anda berada dalam keramaian? Hentikan kegiatan menulis anda, bersosialisasilah dengan teman-teman, lupakan sejenak tulisan anda dan fokuskan pikiran dengan berbicara bersama teman-teman anda.

b)      Dengarkan musik
Belajar sambil menyetel musik akan membuat fokus anda terpecah menjadi dua, sehingga anda jadi tidak bisa mengerjakan tugas dengan benar. Bahkan seringkali ketika mengerjakan tugas sambil bersenandung, kita malah menulis liriknya (bukan jawaban dari soal yang dikerjakan). Cobalah dengarkan musik sambil menulis, tapi kegiatan ini hanya bisa terjadi dalam beberapa sebab saja. Lagu yang anda dengar haruslah lagu yang sejalan dengan tulisan anda, misalnya lagu tentang persahabatan. Hal ini akan membantu anda untuk memahami arti persahabatan yang sesungguhnya, sehingga  tanpa sadar anda sudah menulis makna persahabatan versi anda yang belum tentu di miliki orang lain. Sebagai seorang wibu, saya senang menulis ulasan tentang anime. Coba saja dengarkan lagu pengiring dari anime tersebut, maka anda akan dengan sangat mudah mengetik karena terbawa arus dengan opening/ending lagunya, sehingga tanpa sadar anda sudah menjiwai lagu tersebut.

c)       Jangan memaksa, tapi belajarlah sedikit demi sedikit
Jangan memaksakan diri untuk membuat tulisan yang bagus, karena tulisan yang bagus selalu bermula dari tulisan yang jelek. Cobalah menulis tentang kegiatan anda sehari-hari, niscaya anda akan terbiasa untuk membuat tulisan-tulisan lain yang lebih menantang. Simpan ide anda dalam folder, simpan dalam buku, jangan pernah menghapus tulisan anda sebagai penulis amatir. Anda akan terkejut melihat perubahan tulisan anda dari waktu ke waktu dan itu akan membuatmu tersenyum sambil berkata, “Wah, sepertinya aku sudah banyak berubah.”

d)      Membaca puisi
Ingin memiliki diksi yang bagus, tapi tidak bisa, walhasil kena writer’s block. Cobalah dengan membaca puisi, ada banyak diksi yang indah dalam selembar panjang puisi. Puisi susah dimaknai, jika anda paham dan mengerti tentang puisi, maka anda akan dengan mudah membuat diksi yang mudah dinikmati oleh orang awam.

e)      Observasi
Jangan menjadi penderita writer’s block akut, keluarlah dan lakukan penelitian. Lihat kebiasaan orang-orang di sekeliling anda, jadikan itu ide untuk melanjutkan tulisan anda yang tertimbun di dalam folder.

f)       Lakukan monolog dan banyak-banyaklah bereskpresi
Sebagai pecinta anime bajakan, kita sering melihat si protagonis melakukan monolog dengan dirinya sendiri (entah di dalam kelas, di atas kereta atau dalam perjalanan). Orang yang biasa menonton anime akan terbiasa untuk banyak berekspresi. Review tulisan anda dalam otak anda, bicaralah sendiri, lihat apa kekurangan dalam tulisan anda, jika anda kesal, menghela napaslah, jika anda senang, tertawalah. Jangan takut dengan ucapan orang yang mengataimu gila, dia tidak tau kalau kita sedang menelurkan sebuah ide brilian.

g)      Menulislah selagi bisa
Sebelum anda mulai merasakan virus writer’s block, segeralah menulis selagi anda bisa. Ketik saja apa yang anda pikirkan, coret saja halaman terakhir buku anda dengan tinta, jangan berhenti. Lakukan terus sampai anda sudah terjangkit virus yang satu ini. Jangan beristirahat di saat-saat genting begini, anda lebih baik merasa lelah untuk menulis banyak ide ketimbang lelah karena tidak dapat menuangkan sebuah ide.

Ya, itulah tips saya agar kalian semua bisa kembali semangat menulis. Dua tips tambahan dari saya adalah banyak-banyaklah membaca buku, itu membuatmu menambah bank kosakata kata yang keren-keren. Belajarlah bahasa asing, anda akan terlihat keren jika mengutip kalimat menggunakan bahasa asing. 

Sebagai tambahan, ada tips mengatasi writer’s block yang saya dapatkan ketika mengikuti seminar kepenulisan. Jangan diskip ya, nanti anda menyesal!

a)      Dikutip dari Seminar Umum yang diadakan oleh LPM MOMEN Fakultas Teknik Universitas Mataram pada Sabtu, 26 November 2016, bahwasanya tips untuk mengatasi writer’s block adalah jadikan kata terakhir yang anda ketik sebagai “pintu” untuk mengetik kalimat selanjutnya. Ketika anda bingung untuk melanjutkan tulisan anda dan sudah sampai di titik, coba renungkan kata tersebut, biarkan otak anda menganalisisnya. Pikirkan apa kata yang cocok untuk melanjutkan baris berikutnya. Misalnya, anda mengetik, “Dia pergi begitu saja dengan meninggalkan jutaan kenangan.” Coba renungkan kata kenangan, apa yang bisa anda ciptakan dengan kata kenangan. Kemudian mulailah dengan menulis kembali, “Sudah tak terbendung berapa banyak kenangan yang menampung otak kami, mulai dari sosoknya yang humoris, perawakannya yang tinggi besar, tersesatnya kami di hutan sampai ia menemukan jalan pintas, sikap penolongnya yang tidak bisa melihat orang lain susah, hingga senyumnya yang membuatku merasakan debar yang berbeda saat bersamanya. Hanya kami berdua, di sini, di tempat  yang sama, di langit yang sama, bergandeng tangan menatap bulan yang bersinar. Saat tau dia telah tiada, akupun tersadar jika kami tak lagi berada di bawah langit yang sama.”

b)      Dikutip dari Seminar Nasional yang diadakan oleh SKI AT-TAFAKKUR Fakultas MIPA Universitas Mataram pada Minggu, 18 Desember 2016, dengan narasumber Ibunda Asma Nadia, beliau mengatakan kepada kami untuk mencicil tulisan setiap harinya. Jika tidak sanggup membuat novel dalam deadline yang setipis benang, maka cobalah menulis sedikit demi sedikit walau hanya dua ratus kata setiap harinya. Bukankah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit?

c)       Masih sama, dikutip dari Seminar Nasional yang diadakan oleh SKI AT-TAFAKKUR Fakultas MIPA Universitas Mataram pada Minggu, 18 Desember 2016, dengan narasumber Tere Liye, ada tiga poin supaya kita tidak mengalami writer’s block.
a)      Membacalah
Karena dengan membaca, kita mendapatkan inspirasi baru. Tidak apa-apa tidak orisinil, yang penting kita memiliki niat baik untuk menciptakan suatu karya meski hanya sebuah buku harian di dalam laptop.
b)      Bepergianlah
Jangan hanya menjadi pecundang yang diam di dalam kamar, beliau juga melakukan observasi dalam menulis novel-novelnya yang maha dahsyat. Ia pergi ke berbagai pelosok negeri, mencari inspirasi lewat keberagaman yang ada, keberagaman itu disatukan, sampai akhirnya lahirlah berbagai macam karya yang mengundang banyak inspirasi.
c)       Bertemu/bertemanlah dengan orang-orang bijak
“Saya bukan orang bijak, jadi jangan tanya nasihat cinta dari saya.” Begitu kata beliau yang langsung membuat seisi gedung terbahak-bahak. Ia juga membagi kisahnya ketika banyak remaja tanggung meminta nasihat-nasihat cinta kepadanya, padahal beliau bukanlah siapa-siapa, dia hanya sudah memiliki banyak pengalaman bertemu dengan orang-orang bijak dari berbagai pelosok negeri—yang membagi kisah asmara hingga ajal datang menjemput. Orang bijak adalah orang tuamu, guru-gurumu, dan orang-orang yang sudah melewati realitas hidup yang berat. Tanyakan kepada mereka, minta nasihat untuk membuatmu maju selangkah demi selangkah, setahap demi setahap lebih atas.

Itulah beberapa penyebab dan cara mengatasinya yang murni dari hasil pengalaman saya bergelut di dalam dunia tulis-menulis. Untuk diketahui, saya hanyalah seorang book reviewer dan author fiction, jadi jangan berharap saya bisa menulis hal-hal yang bombastis seperti masalah perekonomian dunia. RIP anak ekonomi manajemen.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua, terlebih bagi kita yang sering mengalami writer’s block. Untuk menutup tulisan kali ini, saya mengutip sebuah quote yang insyaallah membangkitkan semangat kita untuk terus menulis.

“Semua penulis akan meninggal, hanya karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakanmu di akhirat nanti.” –Ali bin Abi Thalib

Terimakasih dan sampai jumpa.

Menanti fajar,
Minggu, 11 Juni 2017
Terima kasih telah membaca artikel tentang Penyebab dan Cara Mengatasi Writer's Block di blog Ruru Project jika anda ingin menyebar luaskan artikel ini di mohon untuk mencantumkan link sebagai Sumbernya, dan bila artikel ini bermanfaat silakan bookmark halaman ini diwebbroswer anda, dengan cara menekan Ctrl + D pada tombol keyboard anda.

Artikel terbaru :

Kata Share | Mas Sehat | Ston SEO Responsif Blogger Template